Waktu yang berkualitas

April 6th, 2007 by pisangkuning

Posting ini membicarakan tentang ibu. Tapi bapak-bapak, mas-mas dan
mbak-mbak juga boleh baca. Sekadar berbagi resah, yang mungkin tak
hanya diriku yang merasakan *duh… kedengeran melankoli yak? hihi..*

Tahun lalu -kalo gak salah inget- aku baca buku menarik tentang ibu
bekerja. Buku itu menggambarkan kegelisahan sang penulis -yang adalah
seorang ibu- mengenai banyak hal di seputar ibu yang bekerja. Working mom banyak dikonfrontasikan dengan ibu rumah tangga -bekennya: full-time mom-
dalam hal efeknya terhadap anak. Banyak penelitian, banyak kesimpulan.
Namun tak banyak yang bisa menjawab kegelisahan dengan tepat.

Aku, sebagai yang akan menapak jalan yang sama, punya kekhawatiran.
Tentang bagaimana ‘nasib’ anak-anakku kalau kutinggal kerja. Selama
ini, media dan masyarakat cenderung punya tanggapan negatif terhadap
ibu bekerja.

How come? Yah… kalo ada anak yang bandel dan ibunya
pekerja, sangat mungkin tanggapan orang adalah, "Oh, pantes. Ibunya
kerja, kurang perhatian". Mom’s fault. Kalo ada anak
prestasinya kurang baik (dibandingkan temen-temennya) atau menurun dan
ibunya bekerja, kata guru, "Ibunya kerja sih, jadi anaknya kurang
diperhatikan". Again, mom’s fault. Kenapa bapak gak
disinggung-singgung seh? Emangnya soal kematangan emosi dan kecerdasan
kognitif anak hanya urusan ibu? Emangnya bapak gak punya tanggung jawab
di bidang ini ya?

Baiklah, bapak bekerja untuk menafkahi keluarga. So what?
Otomatis terlepas dari urusan ‘domestik’? Nah.. yang berpikir seperti
ini bisa digiling sama feminis. Ah ya lupa, banyak feminis yang memilih
ngga nikah karena enggan berada ‘di bawah’ dominasi suami…

Apakah urusan anak -baik pendidikan, kesehatan, pembinaan emosi,
dll- itu cuma kerjaan ibu? Hingga tega-teganya masyarakat ini memberi
vonis bahwa ibu bekerja berdampak kurang baik bagi perkembangan anak.
Apa iya kalo ada anak yang ‘manis’, pinter, dan ibunya ngga kerja lalu
tanggapan orang, "Oh ibunya ngga kerja sih, jadi anaknya diperhatikan"?
Sepertinya, ibu itu jadi ‘keranjang sampah’ dunia. Kalo ‘kualitas’ anak
kurang, ibu-bekerjalah yang paling segera disalahkan.

Yang melegakan dari buku itu adalah bahwa ternyata jawaban bagi permasalahan anak bukanlah ibu-bekerja harus berhenti
dan ‘masuk kandang’. Dan permasalahan anak bukan disebabkan oleh
bekerjanya sang ibu, melainkan kurangnya keahlian ibu dalam menjalani
peran ganda itu.

Solusinya? Menjadi ibu-bekerja yang ideal adalah dengan berperan sebagai pekerja sekaligus sebagai ibu rumah tangga. Mungkin tampak mustahil. Ini ngga berarti ngga boleh punya housekeeper
lho! Usaha menuju ideal akan dihargai oleh siapapun, terutama oleh
anak-anak yang melihat ibu mereka berpeluh sepulang kerja dan tetap
tersenyum menanyakan hari yang mereka lewati. Ibu yang bekerja namun
tetap berusaha menyediakan waktu yang luas DAN berkualitas
bagi anak-anaknya tentu akan disayang dan dimengerti kesulitannya oleh
anggota keluarga. Tentu saja tidak dengan pengorbanan yang tanggung.
Lelah luar biasa jangan ditanya.

Untuk topik ibu-bekerja ini, sering beredar kalimat sakti: ‘waktu yang berkualitas‘. Percaya? Aku ngga. Kamu gak setuju? Ya boleh dong, pendapat pribadi kan boleh aja toh? hehehe…

Biasanya, frase itu dipakai oleh orangtua yang mencari dalih.
Kok begitu? Ya karena mereka yang tak mencari dalih tentu sadar betul
bahwa waktu yang berkualitas hanya dapat dicapai setelah ‘buang waktu’
bertahun-tahun untuk mengenali anaknya. Setelah ‘kenal’, barulah bisa
mengenali suasana hati tanpa harus bertanya dan nyaman untuk
berinteraksi walaupun dalam waktu singkat.

‘Waktu yang berkualitas’ ini -untuk anak- bisa jadi paling ngga laku
untuk 2 fase: bayi dan remaja. Menafsirkan arti tangis bayi dalam waktu
singkat yang ‘berkualitas’? Haha, big joke! ‘Waktu berkualitas’ dengan anak remaja? Right
Orangtua -kebanyakan- adalah mahluk terakhir yang tahu detil kehidupan
pribadi anak remajanya. Jarang banget remaja yang mau curhat sama
orangtuanya. Contohnya aku :p Ngga musuhan sih, setidaknya aku masih
nanya, "Mah, Ita boleh pacaran ngga?", yang disahuti ibuku dengan,
"Dilarang juga tetep aja kan?". Dan kami berdua nyengir.. *doh, masa
lalu… SMP!*

Seberapapun sayang, tak akan terjadi dialog jika satu pihak tak
mengerti bahasa yang digunakan pihak lainnya. Seberapapun cinta, akan
sulit mengerti dan mempertahankan pernikahan jika telinga tak dibuka
untuk mendengar kesah. Dan siapapun orangtua, dia butuh waktu yang
berlimpah-limpah untuk dapat mengerti apa yang diinginkan oleh anaknya
dan ‘bahasa’ apa yang digunakan; terutama bayi. Belajar menguasai
bahasa dan menyimak arti di balik perbuatan inilah yang memakan waktu
lama.

Terlalu muluk jika orangtua berharap anak akan mengerti arti ‘waktu
yang berkualitas’. Yang anak mengerti; orang yang menyayangi akan ada
saat mereka butuhkan. Ya ya.. silakan saja bilang, "Ngga main bareng
mereka sepanjang hari kan ngga berarti kita ngga sayang mereka".
Katakan itu pada mereka dan dengar jawabannya beserta ekspresinya. I won’t tell

Kamu bilang anak suatu saat akan mengerti? Ya, mungkin kelak mereka mengerti; ketika telah dewasa dan mengulangi pola yang sama.

See original post here.

Katakan Tidak pada Promosi Susu Formula

February 24th, 2007 by pisangkuning

Ketika berbelanja di suatu pasar swalayan -beberapa bulan lalu- saya
cukup heran ketika rak pendingin yang mulanya menjadi tempat pajangan
keju berganti isi. Dan yang mengejutkan, keju kini menghuni lemari yang
sama dengan susu formula!

Saya tidak mempermasalahkan tempat
penyimpanan keju itu (selama kemasan belum dibuka, beberapa jenis keju
tidak harus disimpan di rak pendingin). Tapi saya sudah membayangkan,
si mbak penjaga rak susu formula PASTI akan menyapa (minimal) dan
mempromosikan produk yang diwakilinya pada saya; ibu yang membawa bayi!

Prasangka buruk saya tidak sia-sia. Keju saya dapat, sapaan pun saya peroleh. Risiko.

Wah anaknya lucu ya, bu?

Saya cuma tersenyum.

Umurnya berapa bulan, bu?

Nah, mulai deh pertanyaan pembuka. "7 bulan", kata saya.

Susunya apa, bu?

Tuh kan. "ASI!", jawabku pendek.
Si mbak kelihatan terkejut.

Lho kan ASI sudah tidak mencukupi lagi, bu, di usianya yang sekarang?

Tentu saja tidak. "Kan ada MP (makanan pendamping)-ASI", saya tetap menjawab pendek.

Tapi ASI saja tidak cukup lho, bu. Dia perlu tambahan susu formula.

Saya
mulai malas menyimak. "Produksi ASI saya masih banyak kok", berharap
percakapan terputus oleh sesuatu. Duh, kok kuitansinya lama banget sih
jadinya? Saya lirik suami. Antrian agak panjang.

Si mbak terdiam sejenak. Harus ganti jurus tampaknya.

Tidak akan diberi tambahan susu formula?

Sampai
dia menyapih dirinya sendiri, pikir saya. "Nanti kalau umurnya sudah
lebih dari satu tahun baru ditambah susu UHT". Nah lho!

Si mbak kaget lagi.

Susu UHT? Itu kan susu untuk orang dewasa, bu? Tidak cocok untuk anak kecil

Si mbak promosi sama orang yang ’salah’ deh. Aku yang mulai malas meladeni, mengeluarkan jurus kambing hitam.

"Yang
menyarankan itu dokter anak kok, mbak. Lagipula susu UHT tidak hanya
untuk dewasa, yang penting usia konsumen sudah di atas 1 tahun". *gak
percaya? coba cermati kemasan susu UHT!*

Si mbak bingung.

Begini bu, di usia pertumbuhannya kan anak-anak butuh nutrisi penting. Susu formula ini dilengkapi dengan DHA, nukleotida, [...]

Saya
sudah tidak menyimak lagi. Daud mulai resah. Lapar. Protes. "Maaf ya
mbak, saya buru-buru, anak saya belum makan malam", kataku. "Nangis
yang kenceng aja, yang. Protes ama mbaknya!", batinku.

Saya tidak
bermaksud mencela profesi SPG dan tingkat pendidikannya. Dan tidak pula
bermaksud sok pintar. Yang saya sangsi adalah SPG dibekali
‘pengetahuan’ yang netral, yang tidak hanya mendukung kelancaran promosi.

Saya tidak anti pada produk susu formula. Tapi saya muak dengan cara promosinya. Arif bilang itu pembodohan. Saya setuju.

Susu formula adalah the NEXT best thing. NEXT! Dengan huruf kapital, seperti yang saya katakan dalam komentar di tulisan Arif tadi.

Ibu memang melahirkan generasi penerus, next generation. Tapi itu tidak berarti kami HARUS melengkapi asupan nutrisi mereka dengan yang kualitasnya ‘next’.

Bagi ibu yang kesulitan dalam menyusui, carilah solusi bagi masalah yang dialami sebelum memilih susu formula sebagai penambal. Bagi ibu yang tidak kesulitan, sebaiknya jangan mencari kesulitan baru dengan memiliki persediaan
susu formula sebagai ‘jaga-jaga’. (Oh yes! Persediaan itu akan
menimbulkan godaan. Jika kadaluarsa, ’sayang’ kan uang terbuang?)

Ketika ASI, si kualitas nomor satu, the BEST thing, masih diproduksi dengan baik, pemberian susu formula pada bayi adalah pemborosan.
Dan ketika susu formula ditawarkan pada ibu yang jelas-jelas MENYATAKAN
memberikan ASI secara penuh, ini jelas strategi pemasaran yang tidak
sehat. Sama sekali tidak etis.

Saya anjurkan kepada para ibu hamil untuk waspada dalam memilih tempat
untuk melahirkan. Tak jarang rumah sakit memberikan susu formula bayi
yang mahal pada bayi baru lahir (jika bayi sudah terbiasa, sulit
menggantinya!).

Apalagi bagi anda yang bertekad untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. Jangan sungkan
(jangan! itu hak anda!) untuk merepotkan diri, mengingatkan perawat
bahwa anda akan memberikan ASI eksklusif. Jika perawat berganti giliran
(shift), mereka bisa menggunakan alasan ‘tidak tahu’ jika anda
kurang ‘cerewet’ mengingatkan. Akan menjadi ideal jika ibu dapat
memilih rawat-gabung (rooming in).

Jika susu formula
bayi ditawarkan (atau bahkan diberikan tanpa persetujuan) pada anda,
mereka telah melanggar hukum. Saya gemas. Jengkel. Dan saya tidak akan berhenti sampai di sini.

Hello World

January 5th, 2007 by pisangkuning

I’m not new to blog. I’m just new to Friendster’s blog.
This is the default title for the first post from a blog engine I’ve used since 2005. I think it fits anywhere, though.

I already have a ‘home’ blog. So if you are interested enough on me, you can visit bananaTALK. It’s open for everyone, not only for Friendster users.

Bear with me, your first comment is ALWAYS moderated since spammers never die. Once you’re approved, your comments will come straight to the comment board.

So, hello world! Hello, Friendster :)